Rabu, 20 Juni 2012

Dalam klarifikasi yang diunggah ke Youtube, Menkes mengatakan kelompok seks beresiko kini ada di semua umur, termasuk remaja. Adapun seks beresiko adalah berhubungan seks yang beresiko penularan penyakit kelamin maupun kehamilan yang tidak dikehendaki.
Kementerian Kesehatan, imbuhnya, tidak membagikan kondom tersebut ke masyarakat umum. Kondom, kata dia, diambil sebagai langkah terakhir setelah beberapa tahapan dilalui.
Pertama, jika Kementerian menemukan sekelompok masyarakat diketahui melakukan seks beresiko maka pendidikan perlu ditingkatkan, mulai dari agama, reproduksi, dan bagaimana menghormati kehidupan.
Kedua, katanya, konseling perilaku agar mereka menghentikan praktik seks beresiko. "Tapi, kalau tetap melakukan seks beresiko, diimbau mereka menggunakan kondom untuk mengurangi dampak buruk. Kalau anjuran ini pun tidak diikuti, maka kehamilan tidak rencanakan makin meningkat demikian juga dengan penyakit kelamin seperti HIV," kata dia.
Laporan badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebutkan ada 2 juta aborsi setiap tahun. Artinya, kata Menkes, ada hubungan beresiko di mana hak bayi untuk hidup disayangi tidak terpenuhi. "Begitu juga dengan penularan penyakit kelamin meningkat," kata Menkes dalam klarifikasi yang diunggah tanggal 19 Juni tersebut.
Dia menilai seks beresiko dipicu pendidikan agama yang tidak kuat, sebaran VCD porno, dan penjualan bebas stimulan kegairan seks.